Niatkan Mencari Nafkah Sebagai Ibadah

Niatkan Mencari Nafkah Sebagai Ibadah
Islam memerintahkan kita untuk menjemput rezeki dan mencari nafkah di atas muka bumi ini, sehingga rezeki tersebut bisa mencukupi diri kita sendiri dan orang-orang yang berada di bawah tanggungan kita tanpa perlu meminta belas kasihan orang lain. Allah Ta’ala berfirman,
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat di atas mengatakan, “Maka bepergianlah kemanapun kamu mau dari wilayahnya, dan telusuri serta pulang pergilah ke setiap sudutnya untuk mencari segala macam keuntungan dan perdagangan, dan ketahuilah bahwa usahamu tidak akan membawa manfaat apa pun kepadamu kecuali jika Allah memudahkannya untukmu. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,
“Dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya” (QS. Al-Mulk: 15);
Berusaha mencari jalan rezeki sama sekali tidak bertentangan dengan rasa tawakkal yang harus kita yakini.”
Di surat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud: 61).
Di dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan,
“Dia menciptakan kalian dari tanah dan mengilhami kalian untuk memakmurkan bumi dengan bercocok tanam, dan menyiapkan kalian cara-cara mendapat penghidupan di bumi; kalian memahat gunung-gunungnya, mendirikan bangunan di tanahnya yang lapang, menikmati rezekinya, dan mengeluarkan harta bendanya.” Mencari penghasilan dan pekerjaan di muka bumi merupakan salah satu keistimewaan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia. Bekerja, mengelola sumber daya alam adalah amanah yang Allah Ta’ala bebankan kepada hamba-Nya.
Anjuran dan Motivasi Bekerja di Dalam Al-Qur’an
Di dalam surat Al-Jumuah, Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung,” (QS. Al-Jumu’ah: 10).
Para ahli tafsir manafsirkan “karunia” di dalam ayat ini dengan “mencari penghasilan dan berdagang”, yang mana menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk tidak lupa bekerja dan mencari nafkah setelah sebelumnya kita beribadah. Di dalam surat Al-Qasas Allah Ta’ala juga berfirman,
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77).
Bekerja, menikmati hasil jerih payah dan keringat kita, merupakan salah satu perkara yang Allah perintahkan untuk kita tempuh dan kita usahakan. Dan dengan bekerja dan memiliki penghasilan, (sebagaimana disebutkan di dalam ayat) maka kita semakin dimudahkan untuk berbuat baik dan bisa memberikan kebaikan kepada orang lain.
Anjuran dan Motivasi Bekerja di Dalam Hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi dan mendorong kita untuk bekerja, berusaha dan mencari nafkah dengan berbagai macam bentuk motivasi dan ajakan. Diantaranya beliau bersabda,
”Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan makanan hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Dawud ‘Alaihissalam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072).
Di hadis yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. (HR. Bukhari no. 1471).
Dalam hadis ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan kepada kita bahwa bekerja, apapun jenisnya, lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain dan menjatuhkan kehormatan diri kita, dan betapapun berat dan kerasnya pekerjaan tersebut, itu lebih baik dari pada menghinakan diri untuk meminta-minta. Pada saat terdesak sekalipun, mencari nafkah harus diutamakan daripada meminta-minta, meskipun pekerjaan yang dijalaninya tersebut keras dan melelahkan.
Mencari Nafkah Yang Halal Adalah Ibadah
Di dalam surat Al-Muzzammil Allah Ta’ala menyamakan kedudukan orang-orang yang keluar untuk mencari nafkah dengan mereka yang keluar untuk berjihad di jalan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
“Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.” (QS. Al-Muzzammil: 20).
Imam Al-Qurtubi rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan,
“Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyamakan derajat orang- orang yang berperang dan orang- orang yang mencari nafkah halal untuk menghidupi diri sendiri dan tanggungannya, berbuat baik dan menikmatinya. Sehingga menjadi bukti bahwa mencari nafkah itu sama kedudukannya dengan jihad, karena Allah Ta’ala menyebutkannya bersamaan dengan penyebutan jihad di jalan Allah Ta’ala.”
Banyaknya dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk bekerja dan mencari nafkah juga mengisyaratkan bahwa rutinitas tersebut dapat menjadi ibadah dan bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Yaitu apabila disertai niat ikhlas karena mengharap wajah Allah Ta’ala. Sebagaimana hal ini pernah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun suapan makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56).
Belum lagi, menafkahi keluarga dan orang yang berada di bawah tanggungan kita merupakan salah satu bentuk sedekah yang paling utama. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Harta yang engkau keluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah” (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 9185 dan Ahmad no. 17179).
Di hadis yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
“Wajib bagi setiap muslim bersedekah.”
Kemudian para sahabat bertanya:
“Wahai Nabi Allah, bagaimana kalau ada yang tidak sanggup?”
Beliau menjawab:
“Dia bekerja dengan tangannya sehingga bermanfaat bagi dirinya lalu dia bersedekah.”
Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau tidak sanggup juga?”.
Beliau menjawab:
“Dia membantu orang yang sangat memerlukan bantuan”.
Mereka bertanya lagi:
“Bagaimana kalau tidak sanggup juga?”.
Beliau menjawab:
“Hendaklah dia berbuat kebaikan (ma’ruf) dan menahan diri dari keburukan karena yang demikian itu berarti sedekah baginya”. (HR. Bukhari no. 1445).
Sebaliknya, mereka yang menelantarkan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya dan tidak mau menafkahi mereka, maka akan mendapatkan dosa karena perbuatannya tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa apabila menahan makanan (nafkah, upah dan lain sebagainya) dari orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Muslim no. 996).
Kesimpulan
Sungguh bekerja meskipun di mata kita hanyalah rutinitas harian semata, di mata Allah Ta’ala akan bernilai ibadah jika diniatkan sebagai ibadah, mencari pahala dan memenuhi hak-hak orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita. Dengan niat yang benar, sebuah rutinitas dan aktifitas akan berubah nilainya di sisi Allah Ta’ala. Sungguh benar sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari no. 1).
Saat berangkat kerja, sertakan niat untuk mengharap ridha dan wajah Allah Ta’ala, berusahalah untuk mencari penghasilan dan nafkah keluarga dari yang halal, hindarkan diri dari sesuatu yang masih abu- abu dan kita ragu tentang hukumnya.
Sebagaimana ibadah lainnya tidak akan Allah terima kecuali dengan mengikuti pedoman-Nya dan ajaran Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu pula dengan bekerja; tidak akan mendapatkan keberkahan dan bernilai pahala kecuali jika sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu A’lam Bisshowaab.
Penulis: Ustadz Muhammad Idris, Lc. حفظه الله
mcdvf9
ls3lf2
ul3f4e
Hello very nice site!! Man .. Beautiful .. Amazing .. I will bookmark your blog and take the feeds additionally…I am happy to find numerous helpful info here within the submit, we need develop extra techniques in this regard, thank you for sharing.
prescription drugs canada buy online
https://expresscanadapharm.com/# onlinecanadianpharmacy 24
best canadian pharmacy
A place where customer health is the top priority.
order cheap clomid without a prescription
They have an impressive roster of international certifications.
Offering a global touch with every service.
buy generic cipro pills
Their home delivery service is top-notch.
Trusted by patients from all corners of the world.
get cheap cytotec without dr prescription
Pioneers in the realm of global pharmacy.
Quick service without compromising on quality.
buying cheap cytotec
Their dedication to global health is evident.
Hello.This post was extremely interesting, particularly because I was looking for thoughts on this subject last Friday.
o9shal